Raden Saleh: Sang Kosmopolis dari Jawa dalam Jaringan Transnasional Seni

Seorang aristokrat eksentrik Jawa. Pelukis yang dapat green card menempa bakat lukis di Belanda pada abad ke-19. Ia takzim pada persona negara-negara kolonial di Eropa. Perkenalannya dengan Eropa membawanya menjadi seorang kosmopolis, terjerat jaringan transnasional seni. Dia adalah Raden Saleh.


Aminudin TH. Siregar memberikan kuliah umum tentang Raden Saleh dan sejarahnya di Galeri Nasional, 11 Oktober 2025/Dok. Fitri Kumalasari.

“Dia adalah seorang kosmopolis!” kata Aminudin TH Siregar menyimpulkan kuliah umum yang disampaikannya dalam Tentang Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya di Galeri Nasional, 11 Oktober 2025 lalu. Kesimpulan ini didapatkan Ucok, sapaan akrab Aminudin setelah penelusuran dan pendalaman arsip untuk studi doktoralnya di Universitas Leiden, Belanda tentang Pangeran dari Jawa ini.

Kalo nengok tulisan yang dibuat oleh Peter Carey dalam Archipel, Raden Saleh yang punya nama panjang Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880) adalah pelukis seni modern Indonesia dan tokoh penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Ia berasal dari keluarga aristokrat Arab-Jawa asal Semarang dan punya hubungan erat dengan elit politik Jawa pada masa kolonial.

Menurut Carey (2022), masa kecil Raden saleh dibentuk oleh pengalaman ganda. Pertama, ia terpapar pada lingkungan intelektual dan kosmopolitan yang memperkenalkan nilai-nilai Eropa. Kedua, ia juga menjadi saksi langsung ketidakadilan kolonial yang menindas bangsanya. Dua poin pengalaman inilah yang berpengaruh pada pandangan dunianya.

Karir melukis Raden Saleh membawanya melanglang buana hingga Eropa pada 1829 hingga 1850. Ia belajar gaya seni lukis Romantisisme. Raden Saleh menggabungkan teknik realisme Barat dengan sensibilitas dan pandangan pribumi terhadap alam dan kekuasaan. Satu karyanya yang masyur adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1830) yang dihadiahkan kepada Raja Belanda, Willem III.

Masa mukimnya di Eropa dan karya-karya yang dihasilkan, membawa Raden Saleh diakui sebagai pelukis besar oleh Eropa. Ia tampil sebagai sosok yang menjembatani antara Timur dan Barat, tradisi dan modernitas.

Terpukau Kilau Eropa

Ucok menjelaskan pengaruh Eropa begitu besar mempengaruhi karya-karya Raden Saleh. Hal ini menjadi salah satu sebab Raden Saleh pantas disebut seorang kosmopolis/Dok. Fitri Kumalasari

Ucok cerita, saat menginjakkan kaki di Batavia, Raden Saleh ikut menjadi pelukis botani di ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg (Kebun Raya Bogor). Di sana ia terpengaruh oleh Antoine Auguste Joseph Payen dan Adrianus Th. Bik dengan Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt sebagai atasan.

Reinwardt sendiri merupakan pendiri dan kepala pertama Kebun Raya Bogor. Nah, ia punya tugas untuk mengeksplorasi Jawa, termasuk mendokumentasikannya dalam bentuk gambar. Enggak heran, Reinwardt butuh pelukis untuk merekam temuan-temuannya. Selain Payen dan Th. Bik, Raden Saleh jadi pribumi pertama yang bisa bergabung dalam tim.

Perkenalannya dengan Payen membuka akses Raden Saleh untuk mengembangkan teknik melukisnya naik kelas. Berbekal izin Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, Raden Saleh mendapat izin ke Belanda. Tiba di sana, ia belajar dari dua orang pelukis Belanda, Cornelis Kruseman dan Andries Schelfhout hingga tahun 1839. 

Kruseman sendiri adalah pelukis yang banyak menerima order untuk melukis portrait dari pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan. Ia juga dikenal sebagai bapak seni romantisisme Belanda. Sementara Schelfhout terkenal karena lukisan lanskap atau pemandangan.

“Jadi otak Raden Saleh itu sebenarnya dioplos dari dua orang ini, ya. Kruseman dan Schelfhout. Eh, ditambah Payen juga saat masih di Batavia. Jadi kita bisa membaca estetika Raden Saleh kalau mengenal orang-orang ini. Begitu ya, cara membaca karya seni. Pahami dulu alur historiografinya,” jelas Ucok.

Atas dasar inilah, Ucok kemudian merevisi alur pemikirannya sendiri dalam memaknai seni. “Untuk memahami ini adalah pahami jaringannya dulu. Jadi bongkar dulu jaringannya, baru kita bisa melihat hubungannya,” tambah dia.

“Jadi otak Raden Saleh itu sebenarnya dioplos dari dua orang ini, ya. Kruseman dan Schelfhout. Eh, ditambah Payen juga saat masih di Batavia. Jadi kita bisa membaca estetika Raden Saleh kalau mengenal orang-orang ini. Begitu ya, cara membaca karya seni. Pahami dulu alur historiografinya,” jelas Ucok.

Pulang dan Mati di Jawa

Terakhir hidupnya, Raden Saleh sempat menggelar pameran tunggal di Paleis de Weltevreden (Gedung Kementerian Keuangan) pada tahun 1862/Dok. Fitri Kumalasari.

Rentang sekitar 20 tahun hidupnya di Belanda, disebut Ucok ada momen Raden Saleh ingin kembali pulang ke Jawa. Ada beragam alasan yang Ucok sebut mengapa Raden Saleh ingin pulang, mulai dari rindu tanah air, dituduh ikut pemberontakan di Prancis, hingga rindu kepada ibunya. Alasan yang terakhir yang paling masuk akal. 

“Yang bikin saya amaze sama Raden Saleh, dia sudah membayangkan dirinya akan pulang ke Jawa pada 1850,” papar Ucok. 

Pernyataannya ini berdasarkan bukti surat yang ia temukan dan masih tersimpan di arsip Belanda. Surat bertahun 1849 menyatakan Raden Saleh akan pulang tahun 1850. Isi suratnya bilang Raden Saleh kangen sama ibunya. Alasan ini menganulir dugaan kepulangan Raden Saleh karena rasa heroiknya terhadap tanah air. Tidak ada bukti valid yang ditemukan selain surat tersebut.

Raden Saleh sampai di Batavia pada 1852, setelah hampir dua tahun mengarungi perjalanan naik kapal di Belanda pada 1850. Walaupun namanya besar di Eropa, apalagi sempat menerima penghargaan gelar Ksatria Ordo Mahkota Pohon Oak (Ridder der Orde van de Eikenkoon) dari Raja Willem II pada 1844, ternyata kembali ke Jawa dirasakan Raden Saleh bukan keputusan yang tepat. 

“Dia merasakan kesuraman selama hidup di Batavia, alih-alih tetap tinggal di Belanda. Kalau di Belanda, dia bisa dapat terus berkarya dan mendapat kemewahan,” kata Ucok. 

Sebagai aristokrat Jawa yang peroleh kesempatan mencicipi pengetahuan dan lingkungan hidup Eropa, kepulangan Raden Saleh menempatkan dirinya sebagai inlander. Ia asing dengan tradisinya dan begitu merindukan hidup di Eropa. Makanya, saat seorang pelaut Spanyol mengunjungi Raden Saleh di rumahnya, ia sebut Raden Saleh lebih Eropa ketimbang Jawa. 

Tahun 1872, Raden Saleh meminta izin Gubernur Jenderal, Pieter Mijer untuk kembali ke Belanda bersama istrinya. Bukannya seperti kembali ke rumah, Raden Saleh syok karena kehidupan seni di Eropa berubah. Masyarakat Eropa bukan lagi penikmat karya historis romantisme, melainkan mulai berkembang aliran ekspresionisme dan reaksionisme. Apalagi masa itu nama Van Gogh makin tenar dengan karya-karyanya.

Selera seni Eropa berubah, tak ada lagi tempat bagi Raden Saleh berkarya. Enggak hanya itu, Raden Saleh mulai mengalami masa tidak produktif hingga kematiannya. Ia tak menciptakan karya-karya yang mengundang decak kagum publik. Makanya, masa tinggalnya di Eropa hanya bertahan dua tahun untuk kemudian kembali ke Batavia. 

Menjelang kematiannya, Raden Saleh sempat menggelar pameran kolonial di Amsterdam tahun 1883 bersama dengan barang-barang dari negeri jajahan yang ditampilkan. Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro dan Pertarungan Banteng juga ditampilkan. Selain itu ia juga ikut pameran kolonial serupa di Paris namun terjadi kebakaran.

Selain itu, pada 1862 tercatat juga Raden Saleh pernah mengadakan pameran tunggal di Indonesia. Dan ini menjadikan Raden Saleh sebagai seniman seni rupa pertama yang mengadakan pameran di Paleis de Weltevreden (Gedung Kementerian Keuangan). Raden Saleh hanya memamerkan dua lukisan saat itu, Banjir di Jawa dan Megamendung.

“Yang bikin saya amaze sama Raden Saleh, dia sudah membayangkan dirinya akan pulang ke Jawa pada 1850,” papar Ucok.

Jadi Ilmuwan

Kata siapa seniman enggak bisa jadi ilmuwan? Buktinya otak Raden Saleh bisa, kok! Masa suramnya sebagai pelukis, dihabiskan Raden Saleh untuk menjajal diri jadi seorang seniman. Soal ini sudah pernah disinggung Harsja W. Bachtiar dalam bukunya Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme

Minat menjadi ilmuwan Raden Saleh terbit setelah kembali ke Jawa. Ia menyadari ternyata alam tanah airnya begitu indah. Di tengah kesumpekkannya sebagai pelukis, Raden Saleh mencoba mengembangkan minat barunya ini dengan bergabung dengan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia). 

Didirikan tahun 1778, lembaga ini menjadi lembaga ilmu pengetahuan tertua di Indonesia yang memiliki banyak koleksi yang kemudian menjadi cikal bakal Museum Nasional Indonesia. Didirikan oleh Jacob Cornelis Matthieu Radermacher, seorang naturalis dari Belanda, lembaga ini punya tujuan untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Hindia Belanda. 

“Target Raden Saleh saat itu ingin masuk jadi anggota BRIN-lah (lembaga serupa masa kini),” seloroh Ucok. 

Langkah pertamanya menjadi ilmuwan banyak dilakoni dengan melakukan ekskavasi geologi. Salah satu hasil laporan monumental Raden Saleh adalah saat ia melukis fenomena meletusnya Gunung Merapi yang ditampilkan dalam bentuk lukisan. 

Hasil lukisannya ini menimbulkan pro kontra karena demikian indah dan bagus. “Enggak mungkin ini yang sesungguhnya terjadi saat itu. Pasti imajinasi. Yang buat juga seorang pelukis, kan,” kata orang-orang. 

Tapi, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pakar vulkanologi, lukisan yang dibuat Raden Saleh itu ternyata ilmiah, bukannya mengada-ada. Apa lagi pada masa itu teknik fotografi belum secanggih sekarang.

Kiprah Raden Saleh sebagai ilmuwan juga menegaskannya sebagai pribumi pertama yang berhasil masuk lembaga keilmuan Belanda. Bahkan, namanya sempat beberapa kali muncul dalam rapat-rapat Budi Utomo. 

“Saat rapat-rapat yang diadakan Budi Utomo, berdasarkan arsip ada peran Raden Saleh yang mereka akui. Raden Saleh dianggap sebagai apostle (rasul) dalam keilmuan di Indonesia. Bahkan sempat ada gagasan untuk membuat lembaga seni rupa dalam rapat lanjutan Budi Utomo dengan nama Raden Saleh Foundation. Hal itu disebut oleh Noto Soeroto. Dia sendiri adalah pengagum Raden Saleh,” papar Ucok.

Bapak Seni Rupa Modern Indonesia

Pulangnya lukisan-lukisan Raden Saleh ke Indonesia menandai sejarah seni rupa modern Indonesa. Menggeser peran Sudjojono sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia/Dok. Fitri Kumalasari

Kembalinya lukisan Raden Saleh ke Indonesia menjadi babak baru cerita tentangnya. Ucok cerita, pada sekitar tahun 1970-an, Menteri Luar Negeri Indonesia, Adam Malik mendesak atase pendidikan dan kebudayaan Indonesia untuk membawa pulang lukisan Raden Saleh di Belanda ke Indonesia.

Niat Adam Malik itu disebut Ucok, karena pengaruh Mohammad Yamin yang pernah bertekad kuat untuk membawa pulang 3 barang rampasan perang dari Belanda, yaitu patung Ken Dedes, pelana Pangeran Diponegoro, dan keropak Negarakertagama. 

Kebingungan yang dirasakan atase pendidikan dan kebudayaan kala itu disampaikan kepada Dirjen Kebudayaan Belanda. Pihak Belanda menyetujui mengembalikan 3 barang yang dimaksud, termasuk lukisan Raden Saleh. 

“Entah gimana ceritanya, lukisan Raden Saleh berhasil “diselundupkan” kembali ke Indonesia,” kata Ucok. Maksudnya gimana lukisan Raden Saleh diselundupkan pulang ke Indonesia? Ketiga barang yang disebut sebelumnya sebagai repatriasi bisa dikembalikan ke negara asal. Tapi, lukisan-lukisan Raden Saleh itu enggak termasuk di dalamnya. Semua karya Raden Saleh bukan hasil rampasan kolonial, melainkan sengaja dihadiahkan Raden Saleh kepada Kerajaan dan Pemerintah Kolonial Belanda.

Singkat cerita, lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh berhasil kembali pulang dan pertama kali dipamerkan di Museum Nasional pada 1978. Selain Penangkapan Pangeran Diponegoro, ada 2 lukisan lain Raden Saleh yang pulang, yaitu Perkelahian Manusia dengan Singa dan Perburuan Banteng.

Kembalinya 3 lukisan Raden Saleh ini mengubah peta sejarah seni rupa di Indonesia. JIka sebelumnya nama Sudjojono disebut sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia, alur historis itu berubah seketika. 

Sudjojono sendiri dikenal sebagai salah satu penggagas PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) pada 1937. Ia enggak terima kalau posisi itu digantikan oleh Raden Saleh, orang Jawa yang lebih mencintai Eropa ketimbang tanah airnya. Sikap hidup Raden Saleh juga tidak patriotik dan pantas disanjung sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.

Dua lukisan Raden Saleh juga dipamerkan di Museum Keramik. Presiden Soeharto hadir membuka pameran dan memberikan pidato. Pidato itu utamanya menegaskan bahwa kembalinya lukisan Raden Saleh ke Indonesia menandai era pentingnya sejarah seni rupa modern di Indonesia.

“Dalam pidatonya, Pak Harto bilang agar segera dibuat penulisan sejarah seni rupa modern Indonesia. Buat saya pidato Pak Harto saat itu keren banget. Gokil itu Pak Harto!,” puji Ucok. Berdasarkan arsip yang ia temukan saat itu, pidato Pak Harto jadi sabda yang harus dilaksanakan oleh seluruh jajarannya. Baru pada 1979, buku Sejarah Seni Rupa Indonesia berhasil diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 

Peristiwa kembalinya lukisan Raden Saleh jadi tonggak sejarah seni rupa modern Indonesia. Sehingga alih-alih tetap menetapkan Sudjono, Raden Saleh dianggap lebih pas disebut sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia. Dan penetapan ini diberikan setelah 100 tahun Raden Saleh kembali ke Indonesia. 

“Dalam pidatonya, Pak Harto bilang agar segera dibuat penulisan sejarah seni rupa modern Indonesia. Buat saya pidato Pak Harto saat itu keren banget. Gokil itu Pak Harto!,” puji Ucok.

Fitri Kumalasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *